Oleh: M. Farid W Makkulau
Related Post: Video Tari MappadendangĀ
ETTAPEDIA.ORG – Di kalangan masyarakat Bugis, siapa yang tak kenal Mappadendang? Menyebut “Mappadendang” maka di pikiran Orang Bugis, pastilah terbersit kemeriahan Pesta Panen. Ya, Mappadendang adalah sebutan untuk pesta pasca panen padi sebagai salah satu bentuk kesyukuran kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam upacara adat Mappadendang, diundang seluruh masyarakat untuk merasakan kemeriahan syukuran atas hasil panen padi. Di dalamnya, ada acara penumbukan gabah pada lesung dan penumbuk (alu) yang dilakukan secara serempak, bertalu-talu dengan ritme dan irama yang beraneka, namun tetap terdengar harmonis.
Irama Mappadendang berupa tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padi. Komponen utama dalam ritual Mappadendang terdiri dari 6 perempuan, 3 pria, yang kesemuanya memakai pakaian tradisional. Tambahannya adalah bilik Baruga, dan perlengkapan Mappadendang: lesung dan alu.
Ritual Mappadendang yang aslinya, dilakukan di tengah sawah untuk melakukan penumbukan gabah secara besama.Ā Biasanya dilaksanakan setelah panen raya, memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama.
Mappadendang
Narekko laoki ri Sulawesi
Lolang-lolakki ri tana Ogi
Leppang mabbenni-benni
Pirasai ase banda malunrae
Padi banda yang gurih
Diangkut menuju daerah
Dibawa ke kampung
Kampung yang kekurangan beras.
Di kekinian, sudah banyak terjadi pergeseran dari praktek Mappadendang, namun tetap dilestarikan dengan tujuan menjaga silaturahim dengan sesama anggota masyarakat, tanda bersyukur, sekaligus sebagai salah satu upaya mempererat persahabatan dan kekeluargaan dengan pihak-pihak terkait, seperti pemerintah dan tokoh masyarakat lainnya. (*)





















