27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:07 pm

Mengangkat Budaya Mappatabe’ dalam Seni Pertunjukan

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

– Menyambut Hari Tari se-Dunia, 29 April 2024 dan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2024 di Kabupaten Pangkep

ETTAPEDIA.ORG – Dalam khazanah budaya, kearifan lokal dan tradisi masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan terbukti dalam perjalanan sejarahnya sangat apresiatif terhadap norma positif atau sopan santun dalam interaksi sosial. Salah satunya adalah tentang Tabe’ (permisi), Mappatabe’ atau dalam Bahasa Bugis disebut, “Mappisabbi” (meminta izin).

Budaya tabe’, mappatabe’ atau mappisabbi’ pada umumnya dimaknai sebagai sikap menghargai orang lain yang masih muda, sebaya atau lebih tua, sebagai wujud sipakatau (saling menghormati, saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai, saling memuliakan),  dan sipakainge (saling mengingatkan).

Bagaimana budaya tabe’ itu bermula dan menjadi norma sosial dalam pergaulan? Bagaimana implementasinya dalam konteks yang lebih luas, dalam pergaulan antar penguasa di masa kerajaan Bugis Makassar masih berlangsung? Adakah jejak kesejarahannya yang lebih lampau, paling tidak dalam narasi tutur atau tradisi lisan di masa lalu tentang bagaimana saling memanusiakan lewat abbiasang (kebiasaan) tabe’, mappatabe’ atau mappisabbi’ ini?

Jika melihat kenyataannya di masa kini, Budaya Tabe’ ini perlahan-lahan mulai luntur dalam masyarakat, dan bahkan banyak generasi milenial / gen Z sudah tak mengenalnya. Itu pula sebabnya generasi tua yang seringkali menemukan ‘keanehan’ pada generasi kekinian yang dianggap kurang ajar atau tak memiliki sopan santun, dalam ucapan, sikap dan perbuatannya, dianggap tak mengenal tabe’ atau sipakatau. Apakah orangtuanya tidak mengajarkannya atau pengaruh media sudah terlalu dominan untuk menggeser nilai dan norma budaya tabe’ ini.

Atas keprihatinan inilah, sejumlah seniman, budayawan dan pemerhati sejarah yang tergabung dalam Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep dengan fasilitasi dari Bidang Kebudayaan Diknas Pangkep termotivasi untuk mengangkat Budaya “Mappatabe” ini dalam Seni Pertunjukan.

Kearifan lokal yang melekat pada budaya masa lampau ini harus mewujud dalam ruang seni pertunjukan, sebagai ruang yang asyik dan seru mengenalkan budaya itu sendiri kepada generasi muda. Tak hanya sampai disitu, gambar-gambar telapak tangan pada lokus prasejarah di daerah ini, dan telah terpublikasi sebagai lukisan tertua di dunia, pada leang tedongE, Biku, Balocci dan Leang Bulu Sipong, Tonasa, Bungoro juga diyakini sebagai simbolisasi interaksi sosial “mappatabe” To Alla’ (manusia gua) di masa prasejarah.

Kearifan Lokal tentang Tabe’, Mappatabe’ atau Mappisabbi’ ini merupakan bagian dari budaya masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri, harusnya dapat diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut, sebagai suatu pengetahuan/kearifan masyarakat lokal di masa sejarah yang telah dilaluinya.

Bagaimana mengangkat budaya unggul tentang “tabe” atau “mappatabe” ini mewujud dalam seni pertunjukan? Tentunya harus ada narasi besar yang kuat untuk mengantarnya dan gerakan-gerakan tangan dalam tarian serta musik yang menembus ruang waktu, tempat, dan zaman. Akh, sungguh penulis membayangkan hadirnya pertunjukan sendratari yang dahsyat dan kembalinya kearifan lokal itu dalam penerimaan yang baik di generasi muda.

Tak mudah untuk mewujudkan seni pertunjukan ini? Harus apik kolaborasi antara narasi, tari, lagu dan musik, pakaian dan properti tari, serta semua elemen pertunjukan yang melekatinya. Meski begitu bukan juga suatu hal yang mustahil untuk mewujudkannya. Sebagaimana kita ketahui, pemaknaan tabe’ memiliki pengertian yang luas, melingkupi pergaulan pribadi dan keluarga sampai kepada interaksi antar kerajaan di masa lampau ada semua catatan sejarahnya, karena itu tugas narator perlu mengantarkan pemaknaannya dengan bijak meski terbatasi waktu dan kesanggupan pertunjukan.

Bisakah diwujudkan dalam gerakan-gerakan tari, konsepsi tabe’ seperti: Tidak menyeret sandal atau menghentakkan kaki, tetapi dengan mengucapkan salam atau menyapa dengan sopan, juga untuk melintas, tidak berkacak pinggang, tidak usil mengganggu orang lain, hadirnya etika dan rasa hormat yang kuat dalam pergaulan sebagai hasil dari pendidikan karakter Manusia Bugis Makassar yang mengawal praktek mappatabe’, sipakatau, sipakainge, dan sipakallebi’.

Mengaktualkan sikap tabe’ dan mappatabe’ dalam lingkup pemaknaan yang luas dalam seni pertunjukan tak lama lagi akan kita saksikan, dan semoga para pekerja seni dan budaya di Pangkep berhasil dan sukses menampilkannya. Ditunggu ye’, Tabe di’. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Penikmat Budaya, tinggal di suatu kampung yang kehilangan jejak sejarahnya. Penulis dapat disapa via email: palontaraq@gmail.com

—

Lihat pula: Mallengga: Tradisi Menidurkan Bayi

Iklan

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep menerima pendaftaran santriwati baru TP. 2024/2025

Daftar online: https://pendaftaran.immimpangkep.ponpes.id/

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga