Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – Apa itu Mallengga? Ma’lengga berasal dari kata Ma’, yang berarti melakukan atau mengerjakan, sedang lengga adalah ayunan yang terbuat dari kayu, papan, bambu atau rotan. Jadi, Ma’lengga berarti melakukan ayunan (mengayun). Apa yang diayun dan kenapa mesti diayun?
Ma’lengga dalam Tradisi Mengayun Bayi dalam Masyarakat Sulawesi Selatan yang sejak dahulu dipraktekkan untuk menina-bobokan atau menidurkan bayi. Fungsinya sama dengan Pere’ (bahasa bugis), toeng (bahasa makassar), yakni supaya bayi/anak tidur dengan nyenyak. Umumnya besar kecilnya ukuran lengga pada masa lampau disesuaikan dengan strata sosial keluarga yang buat lengga.
Pada saat seorang bayi untuk pertama kalinya diayun (dilengga), maka dimulailah yang namanya tradisi ‘mallengga’, ada ritual-ritual khusus yang dilakukan untuk keselamatan, kebahagiaan dan kenyamanan sang bayi. Makna yang terkandung didalamnya sangat besar, terkandung pengetahuan simbolik, agar sang bayi tetap dalam lindungan-NYA dan terhindar dari pengaruh roh-roh jahat.
Tradisi Mallengga umumnya satu paket dengan nyanyian semangat, yang membesarkan jiwa dan menumbuhkan harapan-harapan akan kebaikan kelak dikemudian hari. Dalam khazanah Sastra Makassar, nyanyian tersebut disebut kelong, yang dapat diartikan pula sebagai puisi dalam Sastra Indonesia.
Bagi keluarga bangsawan, tradisi mallengga dengan kelongnya biasanya diiringi perlengkapan musik tradisional seperti: gendang, kacaping, suling, pui-pui, calong-calong, lea-lea, bambu, dan lain sebagainya (menyesuaikan dengan kebutuhan).
Dari segi keamanan, mallengga memiliki kelebihan, diantaranya membuat sang bayi tetap dalam dekapan, tidak dikhawatirkan jatuh, dan apabila sang bayi dalam keadaan demam tinggi maka tidak dikhawatirkan terjadi step karena cepat tertangani (tidak seperti halnya dalam ayunan yang biasa (pere’ atau toeng) yang lebih sempit ruang geraknya.
Kelong Mallengga:
“Tinro-tinro”
Toeng … toeng … toeng … toengni bambode
Suku-suku ribangkennu ana’
Na rupiah ripa’lunganna
Nanu tallasa malompo
Reff: Punna Lompo sallang
Teaki Takkaluppai ana
Manna lino nuonroi
Akhera nikatujuang baco
Bojai te’nena lino
Nanu tallasa Mario-rio.
Tinro … tinro … tinro … tinro …
Tinro lolo maku naung ana’
Kamatinggimi alloa
Nakusoroang biseang ana’
Toeng … toeng … toeng … toengni bambode
Suku-suku ribangkennu ana’
Na rupiah ripa’lunganna
Nanu tallasa malompo
Kamasekuji anne nakke
Nakunia anre mange
Tallasa ko nai ana
Natinggi bakka-bakka
Tallasako nai ana
Natinggi bakka-bakka.
Demikian tentang Mallengga, semoga bermanfaat adanya sebagai penambah pengetahuan tradisi leluhur yang sarat makna dan pengharapan akan kebaikan.
Salamaki Tapada Salama’. (*)






















[…] Lihat pula: Mallengga: Tradisi Menidurkan Bayi […]