Penggunaan Istilah Sop dan Coto dalam Khazanah Kuliner Bugis-Makassar

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

ETTAPEDIA.ORG – Penggunaan istilah Sop dan Coto dalam khazanah kuliner Bugis-Makassar bukanlah sekadar salah ketik atau kebetulan, melainkan hasil dari proses asimilasi bahasa dan penegasan identitas budaya.

Berikut adalah alasan mengapa masyarakat di Sulawesi Selatan lebih nyaman menggunakan kedua istilah tersebut:

1. Pergeseran Fonetik (Dialek Lokal)

Dalam linguistik, masyarakat Bugis-Makassar memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan kata serapan asing ke dalam struktur lidah lokal agar lebih mudah diucapkan.

Istilah “Sop vs Sup” perlu dipahami dengan benar. Bahwa kata “Sup” berasal dari bahasa Belanda (soep) atau Inggris (soup). Dalam dialek lokal, vokal “u” yang pendek sering kali bertransformasi menjadi “o” yang lebih bulat dan mantap. Mengucapkan “Sop” terasa lebih tegas dan sesuai dengan artikulasi vokal masyarakat lokal dibandingkan “Sup” yang terdengar lebih lembut.

Halnya dengan Istilah “Coto vs Soto”, juga perlu diluruskan bahwa kata “Soto” diyakini berasal dari dialek Hokkien caudo atau jaodo. Saat masuk ke Makassar, konsonan “S” pada kata “Soto” mengalami pergeseran menjadi “C”. Hal ini mirip dengan beberapa kata lain dalam bahasa Makassar yang cenderung menggunakan konsonan yang lebih tajam.

2. Penegasan Identitas dan Pembeda (Diferensiasi)

Penggunaan istilah ini berfungsi sebagai brand identity untuk membedakan kuliner Sulawesi Selatan dengan daerah lain (terutama Jawa).

Terkait penamaan “Coto Makassar”, jika menggunakan nama “Soto Makassar”, maka hidangan tersebut akan dianggap sebagai varian dari Soto Jawa (seperti Soto Lamongan atau Soto Kudus). Dengan menggunakan nama Coto, masyarakat Makassar memproklamirkan bahwa ini adalah hidangan yang berbeda secara fundamental, baik dari segi bumbu (penggunaan kacang tanah goreng yang dihaluskan) maupun cara penyajian (menggunakan ketupat/lepat, bukan nasi).

Sementara penamaan Sop Saudara/Sop Konro, karena penggunaan kata Sop (dengan huruf ‘o’) sudah melekat sebagai standar penamaan untuk hidangan berkuah kaldu rempah di Sulawesi Selatan. Menyebut “Sup Konro” bagi warga lokal akan terdengar asing dan kurang “berjiwa”.

3. Faktor Sejarah dan Tradisi Lisan

Kuliner di Makassar berkembang pesat melalui tradisi lisan dan interaksi di pasar-pasar tradisional, jadi ada semacam standarisasi visual, dimana spanduk-spanduk warung pinggir jalan sejak puluhan tahun lalu, tulisan “SOP” dan “COTO” sudah menjadi standar visual. Karena ditulis secara konsisten selama berdekade-dekade, bentuk tulisan ini akhirnya dianggap sebagai bentuk baku secara budaya (cultural standard), meskipun secara kaidah Bahasa Indonesia (KBBI) yang baku adalah “Sup” dan “Soto”.

Perbandingan Karakteristik

Istilah Asal Kata Karakteristik Lokal
Coto Soto / Caudo Kuah kental dengan kacang tanah, isi jeroan/daging, dimakan dengan buras/ketupat.
Sop Sup / Soep Kuah lebih bening namun kaya rempah (kayu manis, pala), sering menggunakan susu/santan tipis (seperti pada Sop Saudara).

Jadi, Bagi orang Bugis-Makassar, Coto dan Sop adalah simbol harga diri (Siri’). Mempertahankan ejaan tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur (seperti H. Dollahi untuk Sop Saudara) yang telah merumuskan resep tersebut dengan identitas lokal yang sangat kuat. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Pemerhati Sosial Budaya/Penikmat Sop Saudara dan Konro.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga