27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:41 am

Daftar Raja Luwu: Datu MappajungE ri Luwu

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Kerajaan Luwu sampai saat ini masih disebut sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Meskipun belum diketahui secara pasti tentang tahun berdirinya kerajaan ini, namun Kerajaan Luwu telah diakui pernah mengalami masa kejayaan pada abad ke-XV (Bambang Suwondo, et.al., 1976:20).

Jika ditarik ke belakang, nama Kerajaan Luwu telah dikenal dalam naskah epik mitik I La Galigo dengan tokoh utamanya Sawerigading, diyakini berasal dari Kerajaan Luwu atau menjadi tradisi lisan tentang asal muasal kelahiran Kerajaan Luwu. Menurut beberapa ahli, kerajaan di Sulawesi Selatan ini telah berdiri pada abad ke-VII sampai XV (Suwondo, et.al., 1976:20).

Dari pendapat sementara ini, bisa diperoleh kesimpulan awal bahwa Kerajaan Luwu telah berdiri di Sulawesi Selatan sejak Abad VII, bahkan bisa jadi sebelumnya.  Nama Luwu disebut dalam naskah I La Galigo bersama dengan Kerajaan Wewang Nriwuk dan Tompotikka, Luwu merupakan salah satu dari tiga kerajaan pertama yang ditulis di dalam I La Galigo.

Pada bagian awal kisah dalam I La Galigo yang lazim disebut mula tau, dikisahkan tentang sejarah awal mula masyarakat Bugis. I La Galigo membagi bumi menjadi tiga bagian, bumi bagian atas, tengah, dan bawah. Kehidupan masyarakat Bugis dimulai di daerah tengah yang bernama Ware (Wareq atau Luwu).

Batara Guru dianggap sebagai leluhur orang Bugis dari dunia tengah yang menikah dengan seorang wanita dari dunia bawah yang bernama We Nyelliqtomaq. Keturunan dari keduanya kemudian berturut-turut menjadi lakon dalam kisah I La Galigo selanjutnya.

I La Galigo menyajikan kisah yang terkesan sebagai suatu sejarah yang diformulasikan ke dalam karya sastra. Rafles menyebut I La Galigo sebagai sebagai teks sejarah, khususnya pada bagian tokoh Sawerigading (Muhammad Yunus Hafid dan Mukhlis Hadrawi, 1998:12).

Tempat yang bernama Luwu memang menjadi sentral dalam penceritaan I La Galigo. Luwu merupakan sebuah tempat di daerah sebelah utara Teluk Bone. Sehubungan dengan kisah yang diangkat dalam I La Galigo, sebagian orang beranggapan bahwa Luwu dianggap sebagai awal mula keberadaan Orang-orang Bugis.

Menurut sejarah politik pemerintahan orang Bugis, Kerajaan Luwu menjadikan Ware (Wareq) sebagai pusat pemerintahan sekaligus menjadi kerajaan tertua di tanah Bugis (Hafid dan Hadrawi, 1998:13).

Kerajaan Luwu yang terbentuk dari suku Bugis ini disebut dengan beberapa nama, seperti Luwuq, Wareq, Luwok, dan Luwu.  Bersama dengan Kerajaan Gowa dan Bone, Kerajaan Luwu disebut sebagai Kerajaan Tellu Bocco-e(dalam bahasa Bugis, tellu artinya tiga dan bocco-e artinya yang penuh atau utama).

Kerajaan Luwu terletak di Teluk Bone bagian utara dan beribukota di Palopo (atau disebut juga dengan nama Wareq). Di tempat yang berjarak sekitar 380 km dari Gowa ini bermukim datu atau raja Kerajaan Luwu (Muhammad Abduh, et.al., 1981:135).

Pada abad ke-XIV sampai XV, Kerajaan Luwu mencapai puncak kejayaannya (Bambang Suwondo, et.al., 1976:20). Pernyataan ini dikuatkan oleh Gouverneur van Celebes (Gubernur Sulawesi), Braam Morri pada tahun 1889 yang menyatakan bahwa antara abad ke-X sampai ke-XIV, Kerajaan Luwu mencapai puncak kejayaannya.

Sektor pendukung kejayaan Kerajaan Luwu terutama berasal dari perdagangan bijih besi dan dan barang-barang yang berbahan dasar besi. Komoditas ini kemudian diperdagangkan dengan negara-negara agraria Bugis di selatan Sulawesi. Dari sinilah kemakmuran Kerajaan Luwu menjadikannya sebagai kerajaan terkuat di sebelah tenggara dan barat daya Sulawesi.

Kekuatan Kerajaan Luwu menjadi alasan untuk meluaskan wilayah kekuasaan. Pada abad ke-XV, Kerajaan Luwu menguasai Sungai Cenrana yang merupakan penghubung dengan Tasik Besar. Penguasaan ini berkaitan erat dengan pengamanan jalur perdagangan sebagai tulang punggung perekonomian di Kerajaan Luwu.

Akan tetapi, sekitar tahun 1500-1530 Masehi, kekuasaan Kerajaan Luwu mulai merosot seiring dengan semakin kuatnya Kerajaan Wajo. Bahkan akibat yang paling parah, kawasan Sungai Cenrana akhirnya diserahkan kepada Kerajaan Wajo. Ketika itu Kerajaan Wajo diperintah oleh Arung Matoa Puang ri Ma’galatung, sedangkan Kerajaan Luwu diperintah oleh Dewaraja.

Kekuasaan Kerajaan Luwu semakin merosot pada abad ke-XVII. Kala itu, Kerajaan Bone mulai meningkatkan kekuasaan dengan melebarkan wilayah. Akibat dari semakin kuatnya Kerajaan Bone, pada pertengahan abad ke-XVII, kemegahan Kerajaan Luwu mulai tertandingi seiring dengan meningkatnya kebesaran Kerajaan Bone di bawah pemerintahan Arung Palaka (Hafid dan Hadrawi, 1998:13).

Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)
Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Berikut Daftar Raja Luwu, yang dalam khazanah Sejarah Sulawesi Selatan, disebut Datu MappajungE ri Luwu, yaitu:

Datu Luwu ke-1: Batara Guru (Londong Mawale), bergelar To Manurung

Datu Luwu ke-2: Batara Lattu’, (Putra Batara Guru), memerintah selama 20 tahun.

1268-1293: Datu Luwu ke-3: Simpurusiang, Putra We Tenriabeng yang bersaudara kembar dengan Sawerigading, cucu dari Batara Lattu.

1293-1330: Datu Luwu, ke-4: Anakaji, Putra Simpurusiang. Inilah yang kawin dengan putri Majapahit bernama We Tappacina)

1330-1365: Datu Luwu ke-5: Tampa Balusu (Putra Anakaji)

1365-1402: Datu Luwu ke- 6: Tanra Balusu (Putra Tampa Balusu)

1402-1426: Datu Luwu ke-7: Toampanangi (Putra Tanra Balusu)

1426-1458: Datu Luwu ke-8: Batara Guru II (Putra Toampanangi)

1458-1465: Datu Luwu ke-9: La Mariawa (Putra Tampa Balusu)

1465-1507: Datu Luwu ke-10: Datu Risaung Lebbi (Putra Batara Guru II)

1507-1541: Datu Luwu ke-11: Dewaraja (Putra Datu Risaung Le’bi’i), bergelar Maninggoe’ ri Bajo.

1541-1556: Datu Luwu ke-12: Tosangkawana (Kemanakan ManinggoE ri Bajo)

1556-1571: Datu Luwu ke-13: Datu Maoge (Kemanakan Tosangkawana)

1571-1587: Datu Luwu ke-14: We Tenri Rawe’ (Sepupu sekali Datu Maoge)

1587-1615: Datu Luwu ke-15: Andi Pattiware’ Daeng Parabung atau PattiarasE’, bergelar Petta Matinroe’ Pattimang (Putra We Tenriawe. Inilah Raja Luwu pertama yang masuk Islam)

1615-1637: Datu Luwu ke-16: Pati Passaung Sultan Abdullah MatinroE ri Patimang Putra Patiarase’. la kawin dengan Karaeng Balla Bugisi dari Gowa.

1637-1663: Datu Luwu ke-17: La Basso atau La Pakeubangan Sultan Ahmad Nazaruddin, bergelar Petta Matinroe’ ri Gowa (Lokkoe’), merupakan Putra Pati Passaung.

1663-1704: Datu Luwu ke-18 dan ke-20: Settiaraja, bergelar Petta Matinroe’ ri Tompoq Tikkaq (Putra Petta Mattiroe ri Gowa).

Datu Luwu ke-19: Petta Matinroe’ ri Polka, memerintah ketika Settiaraja pergi membantu Gowa menghadapi VOC. (Beliau bersepupu sekali Settiaraja)

1704-1715: Datu Luwu ke-21: La Onro To Palaguna, bergelar Petta Matinroe’ ri Langkanae’. Raja inilah yang kawin dengan We Patteketana Daeng Tanisanga (Datu  Tanete Xlll)

1706-1715: Datu Luwu ke-22: Batari TungkE’, bergelar Sultanat Fatimah Petta Matinroe’ ri Pattiro (Putri To Palaguna)

1715-1748: Datu Luwu ke-23: Batari Tojang, bergelar Sultanat Sitti Zaenab Matinroe’ ri Tippulue’. (Bersepupu sekali Batari Tungke). Beliau juga menjadi Mangkau di Bone dan Datu di Soppeng, Istri dari Arumpone La Patau Matanna Tikka.

1748-1760 & 1765-1778: Datu Luwu ke-24 dan ke-26: We Tenri Leleang Sulatanah Aisyah, bergelar Petta Matinroe’ ri Soreang.

1760-1765: Datu Luwu ke-25 : Tosibengngareng, bergelar La Kaseng Patta Matinroe’ ri Kaluku Bodoe’. (Sepupu We Tenrileleang)

1778-1810: Datu Luwu ke-27 : La Tenri Peppang Daeng Pali’ (Putra La Kaseng), bergelar Petta Matinroe’ ri Sabbangparu.

1810-1825: Datu Luwu ke-28: We Tenri Awaru Sulatanah Hawa, bergelar Petta Matinroe’ ri Tengngana Luwu. We Tenriawaru Puteri Latenri Peppang. Kawin dengan Mappoleonro, Datu Soppeng ke-28 (1765-1820)

1825-1854: Datu Luwu ke-29 : La Oddang Pero Petta Matinroe’ Kombong Beru (Putra We Tenriawaru)

1854-1880: Datu Luwu ke-30 : Patipatau, Abdul Karim Toapanyompa Petta Matinroe’ ri Limpomajang (Putra La Oddang Pero MatinroE ri Tomalullu Putra We Tenriawaru)

1880-1883: Datu Luwu ke-31 : We Addi Luwu Petta Matinroe’ Temmalullu. 

1883-1901: Datu Luwu ke-32 : Iskandar Opu Daeng Pali’, Petta Matinroe’ ri Matakko (Kemanakan MatinroE ri Tomalullu).

1901-1935: Datu Luwu ke-33 : Andi Kambo atau Siti Husaimah Andi Kambo Opu Daeng Risompa Sultan Zaenab, bergelar Petta Matinroe’ ri Bintanna  (Putra Patipatau Toappanyompa)

1935-1945 & 1950-1965 : Datu Luwu ke-34 dan ke-36: Andi Djemma, bergelar Petta Matinroe’ ri Amaradekanna merupakan Pajung (Putra Andi Kambo)

1945-1950 Datu Luwu ke-35 : Andi Jelling, memerintah ketika Andi Djemma ditahan dan diasingkan oleh Belanda.

1965-1987 : Datu Luwu ke-37 : Andi Bau Alamsyah, bergelar Petta MatinroE ri Tellu Boccona

1987-1994 : Datu Luwu ke-38 : Hj. Andi Bau Tenripadang, bergelar Opu Datu

1994-2012 : Datu Luwu ke-39 : We Andi Addi Luwu, bergelar Opu Daengna Patiware Petta MatinroE ri AlebbirEnna

2012-Sekarang : Datu Luwu ke-40 : La Maradang Andi Makkulau S.H., bergelar Opu to Bau

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga