Menengok Bungker Jepang di Anggeraja

Oleh:  Etta Adil

ETTAPEDIA.ORG – Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan punya banyak peninggalan sejarah masa lampau, yang jika dikelola dengan baik merupakan obyek destinasi wisata yang menarik. Menurut data dari Kementerian Pendidikan Nasional, terdapat sekitar 21 situs sejarah/prasejarah di ‘Bumi Massenrempulu’ ini yang tersebar pada 12 kecamatan yang ada, yaitu Situs Makam Arung Maiwa Toa Calo, Kompleks Makam Maddea Batu, Kompleks Makam Puang Leoran, Benteng Londe-Londe, Benteng Kaluppini, Benteng Buntu Batu, Gua Tontonan 1, Gua Tontonan 2, dan Kompleks Makam Tandijalling.

Berikutnya, ada pula Situs Gua Panyurak, Kompleks Makam Raja-raja Buntu Batu, Makam Nene’ Rano, Makam Nene’ Lintik, Makam Puang Cambang, Gua Panyurak, Kompleks Makam Islam Laiya, Benteng Bambapuang, Benteng Alla, Gua Patumang, Makam Raja Lumbaja, serta Bunker Jepang di Anggeraja.

Bungker Jepang. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Bungker Jepang. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Salah satu obyek destinasi yang penulis kunjungi tersebut adalah Bungker Jepang yang terdapat di Kecamatan Anggeraja. Kabupaten Enrekang memang merupakan daerah di Sulawesi Selatan yang terletak di kawasan pegunungan, sehingga sangat strategis bagi penjajah Jepang ketika itu membuat Bungker atau benteng pertahanan di kawasan yang dikelilingi Gunung Latimojong dan Gunung Bambapuang tersebut.

Bungker Jepang ini penulis saksikan sendiri keberadaannya, hanya saja tanpa perawatan dan perhatian dari pengelola setempat, bahkan boleh dibilang tanpa pemeliharaan dan pengelolaan, sebagai obyek destinasi wisata sejarah. Lokasi bungker tua ini berhadapann langsung dengan Gunung Bambapuang atau yang lazim disebut sebagai “Gunung Nona”, dari pinggir jalan poros Enrekang-Toraja, berada persis dibawah sebuah Rumah Makan, yang juga disebut Rumah Makan Bungker Jepang di Kecamatan Anggeraja.

Pintu masuk ke tebing dibawah RM. Bungker Jepang. (foto: bahtiar/palontaraq)
Pintu masuk ke tebing dibawah RM. Bungker Jepang. (foto: bahtiar/palontaraq)
Rumah Makan Bungker Jepang di Anggeraja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Rumah Makan Bungker Jepang di Anggeraja. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tak ada guide (pemandu lokal) bagi pengunjung yang ingin melihat Bungker Jepang tersebut, hanya tanda penunjuk jalan arah menuju ke bawah untuk melihatnya dengan kotak donasi sebesar Rp.3000,- bagi pengunjung. Kondisi Bungker tidak terawat, malahan semak belukar dibiarkan tumbuh menjalar diatasnya, menutupi bungker yang hampir tak terlihat dari atas. Pengunjung harus berada di samping bungker untuk memastikan adanya lubang masuk untuk ukuran satu orang dewasa.

Lubang Bungker termasuk dimaksudkan sebagai lubang intai musuh atau untuk mengawasi musuh dari jauh. Beberapa pengunjung enggan untuk masuk karena kelihatan gelap dan menyeramkan. “Mungkin sudah menjadi tempat roh halus,” ujar Misbah, pengunjung dari Pangkep saat menyinggahi lereng bukit Dusun Rura Desa Mandatte Kecamatan Anggeraja, Enrekang.

Penulis perkirakan bungker tua ini berukuran 3×3 m2 dengan tinggi 1,5 meter. Bungker ini lebih mudah dijangkau dibanding bungker lainnya yang tersebar di kaki Gunung Bambapuang karena hanya berjarak sekitar 100 meter dari poros jalan desa, tepatnya di bawah Rumah Makan “Bungker Jepang”. Sebagai sebuah situs sejarah, selayaknya Bunker Jepang mendapatkan perhatian dari Pemerintah setempat untuk menjadi destinasi wisata sejarah, apalagi menyatu dengan pemandangan alam eksotis Gunung Nona. Sayangnya lokasi ini cenderung terabaikan tanpa penataan khusus sebagai ruang pembelajaran sejarah bagi generasi muda. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga